Aku memulai kisah ini dengan sederhana, bahkan sangat sederhana. Tak ada kata dan tak perjanjian. Semua mengalir seperti air, menembus setiap hela-hela lorong kehidupanku.
Aku mengenalnya 14 tahun yang lalu, pertemuan kami pertama kali terjadi saat masuk sekolah dasar. Kami satu sekolah. Awalnya aku tak peduli padanya, karena dia adalah laki-laki. Ayahku sering berpesan padaku untuk tidak terlalu dekat dengan laki-laki “terlalu bahaya” katanya. Maka jadilah aku anak yang penurut pada ayah, tak berani mendekati teman laki-laki sekelasku.
Roda kehidupan itu selalu berputar, begitulah bunyi hukum alam. Mau tidak mau aku harus berkomunikasi dengan laki-laki. Karena enam tahun di sekolah dasar, tidak mungkin aku hanya berteman dengan perempuan. Guruku pun tak peduli dengan nasehat ayahku. Jika ada tugas kelompok, pembagiannya laki-laki dan perempuan akan digabung. Dari sanalah pertemanan aku dan dia dimulai. Kami sering satu kelompok belajar.
Di sekolah aku terkenal sangat pendiam dan tak banyak tingkah. Tak heran teman sekelasku memberikan julukan “suara semut” untukku. Tapi sejak mengenal dia, aku banyak berubah. Aku terlihat lebih ceria, mulai berani untuk mengeluarkan pendapat, mulai memberikan ketegasan kepada orang-orang yang suka menghinaku dan tentunya aku lebih bersemangat untuk sekolah. Entahlah, aku tidak mengerti apa yang terjadi padaku saat itu, karena aku masih sangat kecil dan sangat polos. Yang terpenting bagiku saat itu adalah aku mulai merasakan kebebasan. Kebebasan hidup.
Ternyata Tuhan memang tahu kebutuhan umatNya. Persahabatan kami berlanjut hingga ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan lagi-lagi kami satu kelas. Di SMP kami semakin kompak, ia sekarang bukan hanya mengajariku banyak hal tapi juga melindungiku. Jika berada didekatnya aku merasa sangat nyaman dan tenang. Dan ini bukan hanya perasaanku karena memang terbukti jika aku mendapatkan masalah ia selalu berada di barisan paling depan untuk membelaku.
Enam tahun di SD dan tiga tahun di SMP bukan waktu yang singkat untukku mengenal sosok sahabatku itu. Aku bahkan sangat yakin bahwa ia tidak akan meninggalkanku sendirian. Ia pasti akan membelaku saat aku tertimpa masalah. Tapi ternyata Tuhan berkata lain. Persahabatan kami harus diuji dengan sebuah perpisahan.
Menjelang lulus SMP, orang tuaku menyarankan aku untuk masuk ke SMA Unggulan yang ada di kotaku. Mereka berpendapat bahwa kualitas pendidikan yang baik akan membawaku pada pencapaian keberhasilan yang lebih mudah dan lebih sempurna. Aku pun tak menolak saran mereka bahkan aku sangat senang jika masuk sekolah unggulan. Dan keinginanku untuk masuk sekolah unggulan itu kuceritakan pada sahabatku. Mendengar penjelasanku, ia terdiam. Keluh. Dan tak menatapku. Jelas terlihat ada yang berubah dari raut wajahnya. Tak lama kemudian ia mengucapkan satu patah kata “Bagus!”. Dan kalian tahu itu kata terakhir yang ia ucapkan padaku. Karena sejak saat, tepatnya saat aku pertama kali menginjakkan kaki di bangku SMA. Aku tak pernah bertemu lagi dengannya.
Sejak SMA, aku tak pernah lagi berkomunikasi dengannya. Mungkin karena kesibukan kami yang berbeda. jadwal sekolahku yang pergi pagi pulang sore membuatku kesulitan untuk bertemu sahabatku itu. Dan yang lebih parahnya lagi, aku tak punya akses elektronik untuk bisa berhubungan jarak jauh. Karena pada saat itu ayah tak membolehkanku memakai hendphone. Aku baru diperbolehkan saat kelas dua SMA dan aku tak tahu nomor hp sahabatku itu.
Menjalani kehidupan di SMA tanpanya membuat aku merasa sangat kehilangan. Aku tak punya lagi teman cerita, teman yang selalu membelaku dalam kondisi apapun, teman yang selalu punya cara tersendiri agar aku bisa tersenyum. Aku tak memilikinya lagi. Tapi lambat laun aku sadar, bahwa hidupku harus terus berlanjut. Aku harus melanjutkan cita-citaku. Meski dulu setiap sore, aku tak pernah lelah menunggunya di beranda rumahku. Hanya untuk berangan-angan agar ia datang menemuiku. Tapi dengan berat hati semua itu harus kuakhiri. Karena tidak mungkin aku hidup dengan bayang-bayang sahabatku itu.
Aku mulai menyibukkan diri dengan aktivitas sekolah. Berhari-hari yang kupikirkan adalah bagaimana sekolah dengan baik. Menjadi kebanggaan orang tua. Aku pun mulai membuka diri dengan orang lain. Mulai berteman dengan siapa saja. Dan akhirnya aku menemukan sahabat-sahabat baru, meski bukan seperti dia. Kami (Aku dan sahabat-sahabat baruku) selalu bersama setiap hari. Bahkan hari minggu pun kami habiskan bersama. Bukan hanya sekedar bermain, tapi juga belajar dan mengerjakan tugas. Karena inilah resiko jika sekolah di SMA Unggulan. Tugas selalu menyerang.
Tugas-tugas yang menumpuk dari sekolah, membuat kami tak bisa lepas dari internet. Karena media yang paling mahir dalam membantu kami mengerjakan tugas adalah internet. Pertolongan yang menjanjikan itu membuat kami terutama aku ketagihan untuk bermain internet. Sampai suatu hari salah satu sahabatku memberikan informasi yang menarik bahwa ada jejaring sosial yang cukup bagus dan mudah untuk digunakan. Jejaring itu bernama “Facebook” Awalnya aku tak tertarik dengan informasi dari sahabatku itu. Tapi setelah beberapa bulan aku melihat mereka yang semakin asyik dengan akun facebooknya itu membuatku sedikit tergiur untuk mencobanya. Dan jelas saja, setelah memiliki akun facebook tersendiri aku mulai ketagihan sama seperti sahabat-sahabatku yang lain. Aku selalu membuka facebook untuk memasang status baru atau hanya sekedar melihat update status terbaru dari orang-orang yang berteman denganku.
Satu tahun menggunakan facebook aku begitu sangat terbantu akan kehadirannya. Facebook membuatku bisa berkenalan dengan orang yang sangat jauh. Bahkan aku bisa mendapatkan teman-teman yang asyik melalui facebook.
Sampai suatu hari, aku menemukan sebuah kotak kecil dikamarku. Penasaran, lalu kubuka kotak itu. Kotak itu juga sederhana, hanya terbuat dari kardus yang digunting lalu dibentuk seperti kotak yang ditempel dengan lem. Setelah dibuka, dahiku mulai mengernyit. Isi didalam kotak itu hanyalah sebuah bandana yang terbuat dari kain. Jika kalian pernah menonton film India kuch kuch ho tahe. Bandana yang ada dikotak itu sama seperti bandana yang dipakai oleh Kajol pemeran Anjeli dalam film itu. Persis sama. bandana itu berwarna merah. Aku ingat, bandana itu sering kupakai saat masih sekolah dasar. Sahabatku itu sangat suka jika aku memakainya, mirip seperti Anjeli. Senyumku simpul saat mengingat kenangan itu. Tapi tak lama kemudian senyum itu berubah menjadi tetes-tetes airmata yang mengharukan. Andai ia tahu bahwa sekarang aku sangat merindukannya.
Aku yang masih hanyut dalam kenangan. Tak lama kemudian tersadar dari lamunan yang menyakitkan itu. Aku memiliki facebook dan aku yakin ia juga memilikinya. Jika aku berhasil menemukan namanya di facebook. Bukan tidak mungkin kami bisa akrab lagi seperti dulu. Ia pasti sangat merindukanku sama seperti aku yang selalu merindukannya.
Aku memulai pencarian ini dengan mengetik nama aslinya di kotak pencarian. Alhasil nihil. Ia pasti menggunakan nama lain, bukan nama asli. Sedikit kecewa, tapi tak membuatku putus asa. Aku punya banyak teman di facebook, dan bisa jadi salah satu temanku di facebook juga berteman dengan sahabatku itu. Aku mencari yang kira-kira berteman dengannya. Teman satu sekolahnya. Pencarian pertama gagal, karena temanku itu temannya terlalu banyak, susah untuk mencarinya. Untungnya pada pencarian terakhir aku menemukannya. Ia memakai nama lain, tapi aku tahu bahwa foto profil yang ia gunakan adalah fotonya. Tanpa pikir panjang aku langsung meng-klik permintaan pertemanan. Aku sudah tidak sabar berteman dengannya di facebook. Meski tidak bertemu tapi setidaknya kami bisa melepas kerinduan di facebook.
Beberapa hari aku menunggu konfirmasi darinya. Masih belum ada kabar. Mungkin beberapa hari ini ia tidak membuka facebooknya jadi ia tidak tahu bahwa aku telah meng-add nya untuk menjadi teman.
Seminggu kemudian aku membuka profil facebooknya lagi. Dan sungguh betapa terkejutnya aku ketika melihat dengan mataku sendiri. Sahabat yang selalu kurindukan, sahabat yang begitu berharga untukku, sahabat yang dulunya pernah peduli padaku. Ia menolak pertemananku. Sungguh saat itu aku benar-benar kecewa. Sampai sekarang aku tidak tahu kenapa ia tega melakukan itu padaku. Yang jelas, bagiku saat itu dia telah memutuskan persahabatan. Sejak saat itu aku tahu bahwa ia tidak mau lagi bersahabat denganku. Meski begitu, meski itu tanda bahwa ia tidak ingin mengenalku lagi. Aku masih menganggapnya adalah orang terpenting dalam hidupku. Orang yang sangat berharga.
Tiara Deviana
Prabumulih 06 Juli 2011